Oh Penguasa
Dahulu engkau sangat dihormati
Dahulu engkau sangat dikagumi
Kata-katamu begitu mempesona
Begitu banyak janji-janjimu yang membuat orang terperana
Namun disaat engkau berkuasa
Tak satu pun perilakumu yang sesuai dengan apa yang pernah kau katakan
Disaat rakyat mempercayaimu
Hanya sedikit janji-janji yang bisa engkau laksanakan
Wahai penguasa
Engkau tak seperti apa yang dahulu rakyat pikirkan
Dahulu engkau mengharap dukungan rakyat
Tapi sekarang malah mencampakkan rakyat
Engkau membuat dirimu semakin kaya
Dan melupakan rakyatmu yang semakin sengsara
Kumpulan Puisi-puisi Sapandi
Senin, 07 Mei 2012
Polusi di Jakarta
Jakarta oh Jakarta
Kota yang indah dan megah
Tempat orang mencari nafkah
Banyak penduduknya yang makmur kaya raya
Namun tak sedikit pula yang hidup miskin dan sederhana
Yang kaya berlomba-lomba untuk semakin kaya
Yang miskin berlomba demi mendapat sesuap nasi dari hasil usahanya
Hari demi hari telah terlewati
Semakin hari semakin padat penduduk di kota ini
Musim kemarau kekeringan melanda
Musim hujan banjir menerpa
Meski sulit mengadu nasib di Jakarta
Tak menyurutkan langkah orang untuk mengadu nasib di dalamnya
Lahan dipenuhi gedung-gedung yang menjulang tinggi
Sedangkan pepohonan semakin hari semakin habis ditebangi
Tumpukan sampah menjulang tinggi
Sungai-sungai pun semakin tercemari
Kuda-kuda besi berlalu-lalang kesana-kemari
Polusi pun sudah pasti tak terelakkan lagi
Kota yang indah dan megah
Tempat orang mencari nafkah
Banyak penduduknya yang makmur kaya raya
Namun tak sedikit pula yang hidup miskin dan sederhana
Yang kaya berlomba-lomba untuk semakin kaya
Yang miskin berlomba demi mendapat sesuap nasi dari hasil usahanya
Hari demi hari telah terlewati
Semakin hari semakin padat penduduk di kota ini
Musim kemarau kekeringan melanda
Musim hujan banjir menerpa
Meski sulit mengadu nasib di Jakarta
Tak menyurutkan langkah orang untuk mengadu nasib di dalamnya
Lahan dipenuhi gedung-gedung yang menjulang tinggi
Sedangkan pepohonan semakin hari semakin habis ditebangi
Tumpukan sampah menjulang tinggi
Sungai-sungai pun semakin tercemari
Kuda-kuda besi berlalu-lalang kesana-kemari
Polusi pun sudah pasti tak terelakkan lagi
Mawar Berduri
Wahai bunga mawar yang sedang mekar
Wahai bunga mawar yang indah dan menawan
Disaat aku memandangmu
Begitu indah sedap dipandang
Disaat aku menciummu
Begitu harum membuat hati merasa tenang
Keindahan dan harum aromamu
Membuat aku jatuh cinta padamu
Aku pun mencoba untuk memetikmu dengan tanganku
Walau harus terluka terkena duri dari tangkaimu
Wahai bunga mawar yang indah dan menawan
Disaat aku memandangmu
Begitu indah sedap dipandang
Disaat aku menciummu
Begitu harum membuat hati merasa tenang
Keindahan dan harum aromamu
Membuat aku jatuh cinta padamu
Aku pun mencoba untuk memetikmu dengan tanganku
Walau harus terluka terkena duri dari tangkaimu
Minggu, 06 Mei 2012
Permainan Dunia Yang Menipu
Wahai dunia yang begitu menawan
Wahai dunia yang begitu mempesona
Begitu banyak manusia yang mengagumi
Begitu banyak manusia yang ingin memiliki
Tahukah engkau bahwasannya dunia bergerak menjauhi kita
Sedangkan akhirat bergerak mendekat menghampiri kita
Sadarlah wahai kita umat manusia
Sadarlah akan tipu muslihatnya
Semua manusia akan mati
Tidak ada yang abadi di dunia ini
Wahai dunia yang begitu mempesona
Begitu banyak manusia yang mengagumi
Begitu banyak manusia yang ingin memiliki
Tahukah engkau bahwasannya dunia bergerak menjauhi kita
Sedangkan akhirat bergerak mendekat menghampiri kita
Sadarlah wahai kita umat manusia
Sadarlah akan tipu muslihatnya
Semua manusia akan mati
Tidak ada yang abadi di dunia ini
Air
Air yang tenang
Air yang mengalir
Air yang bergelombang
Begitu banyaknya makhluk di muka bumi yang membutuhkan air
Termasuk manusia yang kadang lupa akan keberadaannya
Pencemaran air terjadi di sana sini
Namun sedikit manusia yang tergerak untuk merawatnya
Air yang membawa manfaat ini
Kini berubah membawa bencana
Disaat kemarau kekeringan melanda
Disaat hujan banjir menerpa
Sadarlah wahai manusia
Sadarlah terhadap kebutuhan untuk dirinya sendiri
Sebagai makhluk yang membutuhkan air
Tak sepatutnya manusia merusaknya
Merawat air sama halnya merawat diri sendiri
Merusak air sama halnya merusak diri sendiri
Air yang mengalir
Air yang bergelombang
Begitu banyaknya makhluk di muka bumi yang membutuhkan air
Termasuk manusia yang kadang lupa akan keberadaannya
Pencemaran air terjadi di sana sini
Namun sedikit manusia yang tergerak untuk merawatnya
Air yang membawa manfaat ini
Kini berubah membawa bencana
Disaat kemarau kekeringan melanda
Disaat hujan banjir menerpa
Sadarlah wahai manusia
Sadarlah terhadap kebutuhan untuk dirinya sendiri
Sebagai makhluk yang membutuhkan air
Tak sepatutnya manusia merusaknya
Merawat air sama halnya merawat diri sendiri
Merusak air sama halnya merusak diri sendiri
Langganan:
Postingan (Atom)